Selasa, 01 Oktober 2013

Membuka Pintu


Masih mencoba percaya
Senantiasa meminta
Pinta yang masih sama
Seperti kemarin lusa

Berusaha mempercayai
Hal memang tak pasti
Dari nurani hati
Masih jajal tempati

Mengusahakanmu percaya
Meyakinkanmu bersama
Dalam kediaman amarah
Di luar berbincang ramah

Mencoba diam disini
Setia tinggali yang sudah berarti
Bersediakah selalu terbatas?
Inginkah bebas?

Kala hari mengusir rasa
Mendebulah para percaya
Percayaku mengikatmu
Berusaha memelukmu

Demi satu jari
Merambat sampai tepi
Hingga lengan-lengan berjauhan
Per-langkah tinggalkan

Mencoba diam disini
Setia tinggali yang sudah berarti
Bersediakah selalu terbatas?
Inginkah bebas?

Menjauh dari awal
Mendekati hal tak terkenal
Tak tahu arah melangkah
Terserah sang busur panah

Bangkit dari mustaka tunduk
Bukan berusaha menanduk
Supaya terlihat seluruh marga
Tak berbentur warga raya

Seketika nampak taman
Indah dalam tatapan
Segera langkah dekatkan
Rasa tak tertahan

Inikah surga?
Tapi nyata di dunia.
Lumpuhkan segala kecewa
Semikan hati berbunga
.
Akupun dapati
Setia bukanlah segala arti
Karena aku bahagia disini
Setelah tinggakan hati yang basi

Cicak di DandangTM | aashasena.blogpsot.com | @aryudananta on twitter
Hak cipta dilindungi undang-undang®

Rabu, 25 September 2013

Hujan dan Bintang


Dari lelahnya surya
Sejak tiba kalanya senja
Menatap sejuknya langit luas
Rahasia tak terkelupas

Di sepinya petang ini
Sunyi bertebaran di sana sini
Masih sendiri, hanya sendiri
Tanpa satupun temani

Sejenak saat kulit terbelai
Ribuan bayu membadai
Oyakkan daun berjuta-helai
Hilangkan mimpi hendak digapai

Malam sunyi bertamu hujan
Dalam volum tak tertahan
Volum dalam arti suara
Berarti pula isi cairnya
.
Bintangpun tak hadir malam ini
Bintang yang dinanti-nanti
Tertutup badai tak berhenti
Halangi indahnya ratri

Dimana bintang yang indah itu?
Bintang yang hanya ada satu
Yang cantik, identik
Ku hafal kau dari semua titik

Aku merindukanmu
Masa dimana raga bersamamu
Putar cepat jarum waktu
Hingga tiba pagi tertuju

Aku menginginkanmu
Sekarang juga kau disini
Hangatkan dinginnya sepi
Terangi gelapnya wengi
.
Kalau mampu aku memetikmu
Membawamu dalam lelapku
Hanya jika aku mampu memelukmu
Hidup mati bersamamu

Cicak di DandangTM | aashasena.blogpsot.com | @aryudananta on twitter
Hak cipta dilindungi undang-undang®

Selasa, 17 September 2013

Merasakanmu


Jika benar semua itu,
Tak perlu kau bantah tanyaku

Saat telapak kalian saling terikat
Menundukkan segala pangkat
Lupakan segala derajat
Kau sudah dijerat

Jika sungguh kau kepadaku
Kau takkan berlalu

Ketika kau pergi dari janji
Janji akan bertemu malam tadi
Meski hanya sekadar bincangan
Mengapa kau abaikan

Jika benar kau mencintaiku
Takkan berupaya kau buatku cemburu

Waktu kau bercumbu mesra
Memeluk pinggangnya,
Saling bertatap muka.
Waktu hidung kalian bertemu,
Nyaris pasangan bibir menyatu.
Entah sadar tidaknya semua itu.

Jika nyata janjimu
Jika wujud cinta itu
Takkan mencoba kau buatku cemburu
      Cinta saling menghormati, saling menghargai
Akan tiap-tiap butir kepercayaan
Sedikitpun itu, telah kita berikan
Teganya hanya kau mainkan

Karena tak benar semua itu,
Tak sungguh kau padaku,
Tak benar kau mencintaiku.

Cicak di DandangTM | aashasena.blogpsot.com | @aryudananta on twitter
Hak cipta dilindungi undang-undang®

Rabu, 04 September 2013

Pelita Sembunyi


Tiba kala nyala padam
Mata terasa terus terpejam
Pelangipun nampak hitam
Seluruh dunia mengelam

Malam semakin suram
Bayang-bayang kian mengancam
Selimut tak mampu digenggam
Sang dingin kian menajam

Aku merindukanmu
Pelita yang nyala syahdu
Sedang pergi entah kemana
Lekas kembalilah nyala

Kaulah cahayaku
Bantu mata hadapi marga berliku
Sampai dimana jalan tertuju
Tak terasa bumi kelabu

Hasta masih mencoba
Dinding-dinding dirabanya
Mencari dia yang pusaka
Perangi piciknya dunia

Disinilah rupanya!
Persembunyian sang pelita
Yang sempat tak bekerja
Saat ditatap surya

Kaulah cahayaku
Bantu mata hadapi marga berliku
Sampai dimana jalan tertuju
Tak terasa bumi kelabu

Terimakasih telah datang
Segera malam kan terang
Bersiap cahaya menghujam
Tutupi titik temaram

Cicak di DandangTM | aashasena.blogpsot.com | @aryudananta on twitter
Hak cipta dilindungi undang-undang®

Senin, 26 Agustus 2013

Tanpa Revolusi, Tak Ada Evolusi


Kala pukul beralih deras
Tak ada celah tuk bebas
Hanya ruang kecil berbatas
Di dalam terasa panas

Harapkan bunyi sumbang segera berakhir
Nada-nada indah benar hadir
Tak ada satupun akan memungkir
Semua rapi terukir

Namun hingga kini
Tak nampak datangnya lagi
Kisah-kisah yang dinanti
Benar dihadapi

Telah lama kita bertemu
Kala hati sudah menyatu
Ingin hati saling berikatan
Tapi belum tersampaikan

Bangun dari mimpi semalam
Hadapi langit-langit suram
Takut saksikan hati, hari kelam
Aku ingin mati sekarang!

Karena aku tak mampu
Lakukan kau mau
Biar aku sembunyi di balik dasi
Walupun kau masih bisa lihat aku pucat pasi

Telah lama kita bertemu
Kala hati sudah menyatu
Ingin hati saling berikatan
Tapi belum tersampaikan

Pengecut.
Seekor semut.
Tak mampu hadapi maut.

Cicak di DandangTM | aashasena.blogspot.com | @aryudananta on twitter!
Hak cipta dilindungi undang-undang.

Rabu, 14 Agustus 2013

Bersama Rindu


Sekarang aku tak mampu menulis
Yang terendap hanyalah tangis
Dari sisa-sisa sajak
Kini tak mampu dielak

Kau menggantungku
Dengan tali-tali sastramu
Berikan setidaknya temaram
Bantu mata saksikan malam

Kini tinggalah aku
Gelap tanpa lampu
Kering tak ada air
Tak ada hidup mengalir

Rasa besama terasa
Saat kau telah pergi
Tak ada satu temani
Berlalu tinggalkan sepi

Karena kau lah puisi
Tanpamu pula tanpa puisi
Engkaulah berarti sajak
Denganmu mereka beranjak

Merinduku padamu
Merindukan sajak-sajak dulu
Rindukan detik bersama
Berdampingan tahan luka

Rasa besama terasa
Saat kau telah pergi
Tak ada satu temani
Berlalu tinggalkan sepi

Kini aku ingin mencari
Atau kau nak kembali

Cicak di DandangTM aashasena.blogspot.com - @aryudananta on twitter
Hak cipta dilindungi undang-undang

Selasa, 06 Agustus 2013

Musim Dingin


Dinginnya musim ini
Saat gigilan tiada henti
Salju turun bertubi
Tangan menghadap api

Di dalam sepi
Di luarpun tengah mimpi
Tanpa ada satu di hati
Padang kososng tak bertepi

Nampak dari jendela
Suhu rendah tak kunjung reda
Dingin menusuk dada
Nafaspun tak lega

Dalam selimutan salju
Rindukan hangat dirimu
Bersama di kala semi
Mesra raga, mesra hati

Aku nantikan semi
Jumpa denganmu lagi
Saksikan tumbuhnya puspa
Mekar indah penuh aroma

Tapi kini ratapi sepi
Dingin dibawah sekali
Berharta panas kopi
Atau dingin membuat mati

Dalam baju hangat
Senantiasa dingin tak berkeringat
Tanpa angka dalam celcius
Cegah para kayu hangus

Dalam selimutan salju
Rindukan hangat dirimu
Bersama di kala semi
Mesra raga, mesra hati

Kunantikan datangnya semi
Laknati gemeletukan gigi
Bergetar seluruh badan
Tidur sepi tanpa gurauan

Ditulis oleh: Cicak di DandangTM [ @aryudananta on twitter ]