Senin, 18 Februari 2013

Taman Belakang Istana


Aku masih terdiam
Aku masih tetap terpejam
Dada terisi penuh penyesalan
Senapan ini tak kugunakan

Terbayang kau menjauh ditariknya
Nampak asap-asap dibalakang armadanya
Aku lupa ratusan peluru dipinggangku
Seluruh otakku menujumu

Mengapa aku tak tembak saja dia?
Dua peluru cukup untuknya
Memecah kaca-kacanya,
Memecah kepalanya.

Sejenak mulut menggerutu
Mengapa dia ada di hidupku?
Menculikmu dari istanaku
Wahai kau, permaisuriku

Seandainya dia benar lelaki
Dia akan datang kemari
Denganku beradu pedang
Memaksa nyawaku melayang

Dasar pengecut!
Dia hanya bisa merebut
Membawamu sekejap pergi
Tanpa izin, tanpa permisi
.
Terperangkap indolen
Raja tengah rasa risau
Tidur sering mengigau
Istana nyaris kacau

Penasihat membangunkanku
Menyuruhku membuka mata
“bangunlah sebentar, raja!”
“mari tengok keliling istana.”

Saat aku berjalan sendiri,
Tiba-tiba, melintaslah bidadari
Sederhana tanpa sepatu tinggi
Ku kejar sebelum dia pergi

Sampai di taman bunga,
Tampaklah dirinya.
Kupanggil dari belakang
Kudekati sebelum menghilang

Sungguh manis wajahnya,
Kejap aku terpesona
Menjawab, dia tersesat dibumi
Kebingungan ‘tuk kembali

Kuajak dia ke istana
Kuberi jamuan malam untuknya
Berpesan untuk tetap disini
Duduki kursi permaisuri

Follow : @aryudananta on twitter!

Jumat, 15 Februari 2013

Kau, Aku, dan Matamu


Kujelajahi gelapnya afrika
Kuselami dalam hindia
Mencari hal yang dapat menyenangkanmu
Melebarkan senyum bibirmu

Kutemukan emas di selatan Afrika,
Kuburu penyu sisik di hindia
kubawakan semua untukmu
lunas dihadapanmu

kau menggeleng dan berbalik
diam tanpa sedikitpun pekik
pertanda kau tak setuju
kandung arti kau tak mau

coba menerawang mimpimu semalam
apa yang kau benar inginkan?

Kau butuh aku? Nyawaku?
Jika ya, katakan..
Semua pedang, parang, senapan
Pasti akan kusediakan

Aku rela mati untukmu.
Percayailah kata-kataku
Hanya kau yang aku butuhkan
Hangatkan kesendirian malam

Dan kau berbisik lirih,
Bahwa kau ingin dia.
Dia tidak ada disini
Dia tak mau ada disini

Percayailah aku.
Dia hanya suka senyummu
Dia hanya hadir saat kau tertawa
Karena dia juga ikut tertawa

Dia tak akan ada saat kau menangis
Dia pergi bersama gadis-gadis
Menggoda mereka dipinggir sungai
Tersenyum-tawa santai

Kini hanya ada aku,
Hanya ada aku dan dirimu
Iya, dan air matamu
Sekejap, akan aku hapuskan.
Akan kuganti dengan senyuman.

follow: @aryudananta

Rabu, 13 Februari 2013

Ada Pandangan


Mata ini hanya bisa menujumu
Kemanapun kau pergi
Keduanya akan selalu ikuti
Kecuali ke kamar mandi

Mata ini hanya bisa menujumu
Walau kau tak setuju
Walau kau menolak
Walau kau terus mengelak

Aku mengagumimu
Kagum kesetiaanmu
Padanya yang tak tentu bisa
Sekadar bertemu berbicara

Aku mengagumimu
Aku yang terang ungkapkan
Rasa yang sudah tersimpan
Tapi kau abaikan

Mata ini akan tetap menujumu
Sampai keduanya rusak satu demi satu
Hingga mereka tak bisa lihat kembali
Akhirnya kita tiada nanti

Aku akan terus memperhatikanmu
Sesuai keinginanku memilikimu
Walupun mustahil,
Risiko kuambil

Sepuluh tolakan darimu
Memintaku tembak sampai seribu
Sekali lagi yakinkanmu
Setidaknya pandang aku

Karena mata ini hanya bisa menujumu
Sampai ujung dunia kau melaju
Pandangan ini pasti akan ada
Tak peduli kau bersamanya

@aryudananta

Senin, 11 Februari 2013

Demi semua Sajakku


aku disini
saat kau belum temukan dia
masih bimbang pilih cinta
kembali atau pergi

aku ada disini
ketika terbuka jalanmu
jalan yang menghubungkanmu
untuk temukan hati yang baru

aku masih disini
dimasa kau sudah pergi
mengawasimu dari belakang
pastikan kau tak tumbang

aku tetap disini
saat kau kembali
dengan luka dilutut
dan lekas kubalut

aku akan terus disini
sampai kau sembuh benar
bersiap untuk berlayar
arungi samudra cinta yang kasar

sebenarnya aku tak mau
membiarkanmu lepas begitu
pergi tinggalkan aku
temukan hati yang baru

malam ini akan ku katakan
kata-kata yang sempat tertahan
memenuhi ruang dihati dan otak
semakin lama bertambah banyak
.
demi semua sajakku
ku katakan, aku mencintaimu
tetap disini, jangan pergi
tak akan ada luka lagi

dan demi puluhan rima
mohon cinta ini kau terima
tak perlu kau jelajahi samudera
cintamu sudah tersedia

demi diriku sendiri
aku mencintaimu sampai mati
karena cintaku tak terkira
melebihi air di alam semesta

demi apapun yang kau mau
Selama aku mampu
‘kan kupenuhi pintamu
Termasuk, bila kau minta jiwaku

Follow me: @aryudananta


Rabu, 06 Februari 2013

Mimpi Sekejap


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Aku hanya ingin kita bahagia
Aku bahagia mencintaimu
Kau bahagia tanpa aku

Sesederhana diriku
Tak menuntut banyak waktu
Untuk saling bertemu
Karena kau bukan milikku

Sesederhana warna abu-abu
Tak terlalu tegas terang
Juga tak gelap matang
Tak Nampak debu datang

Sesederhana penaku
Pada setiap tariannya
Tinggalkan tinta hitam biasa
Bukan emas atau sederajat mulia

Sesederhana pondok ini
Beratap daun pohon kelapa
Berkaki batang bambu tua
Beralas tikar sekadarnya

Lepas  dari semua benda
Aku masih ingin kau disini
Hangatkan malam yang sendiri
Peluk hingga jelang pagi

Walau sederhana cintaku,
Ku harap  kau tahu
Tulus kuberikan semua padamu
Lebih dari dia di akhir minggu

Dimanapun kau , dengarlah aku
Yang meminta bersamamu
Walau aku tak memilikimu
Biarkan aku mencintaimu










Senin, 04 Februari 2013

malam di taman


Bagaimanakah dia?
Sehingga kau begitu memujanya
Memanggil-manggil namanya
Bermimpi tentangnya

Kalian saling suka,
Saling membalas cinta.
Pergi bersama-sama
Berpeluk-bercumburia

Tapi bagaimana dirimu?
Sebelum dia bersamamu
Merengek meminta tawa
Memintaku bercanda

Kau sekarang tersangka.
Membacok cintaku sampai terluka
Membiarkan darah mengalir
Tertawa saat dia hadir

Siapa aku disini?
Pengintai pasangan kasmaran
Saksikan kalian berciuman
Memejam tahan kesabaran

Benar, aku tak berhak
Meminta kalian ‘tuk beranjak
Tapi aku tetap ingin disini
Sampai para bintang pergi

Walau kursi taman berembun
Aku duduk direrumputan kebun
Mulai bertanya pada jangkrik,
Apa aku tak menarik?

Mereka hanya menjawab “krik-krik..”
Bunyi yang sederhana,
Aku tak tahu maknanya
Mungkin, mereka menganggapku gila

Aku memang sudah gila.
Aku hanya dapat berkata.

Dan aku pandangi bulan
Terang disela-sela awan
Seolah dia mengirimkan pesan
Terdengar ditelinga kanan

Pesan-pesan misterius
Dengan kata-kata kamus
Terdengar seakan memang ada
Seperti bisikan wanita

Kau bukan untuknya..
Begitu dapat dibalik jua
Dia hanya memberi luka
Kau bisa mati karenanya

Lalu bagaimana aku?
Sapu kelilingmu, temukan titik berpijar
Jangan diamkan berlalu, kejar!

Benarkah pucuk ini untukku?
Walau tidak, aku akan tetap memacu
Bukti bahwa aku benar-benar mau
Mencari cinta yang benar untukku
   Aku akan mencarimu.

Minggu, 03 Februari 2013

Tongkat Patah


Andai saja aku pujangga
Akan kubuat ribuan rima
Rima yang menganggapmu bunga
Mekar, semerbak harumnya

Andaikan aku penyair
Untukmu takkan berakhir
Sejauh syair yang kau mau
Meskipun habis penaku

Jikalau aku penulis
Kuceritakan dongeng manis
Tentang puteri yang cantik
Dengan kisah-kisah menarik

Misalkan aku pelukis
Kutegaskan keindahan garis
Detil lekuk tubuhmu
Dari mata sampai kuku

Tapi, siapa aku?
Aku hanyalah pemimpi
Yang tetap tertidur di jelang pagi
Tak siap hadapi tantangan bumi

Dan siapa dirimu?
Nama besar yang terpampang
Mengalahkan fajar datang
Badaipun tak mampu hadang

Lalu bagaimana kita?
Kita bukan apa-apa
Kita tak punya kohesi
Tak ada interaksi

Aneh, aku mencintaimu..
Ku tahu takkan sampai
Tapi sebelum aku usai
Aku tidak akan melambai

Walau mustahil bersamamu,
Kejaibanpun tak pernah mampu
Mengubah aku dan cintaku
Mengubahmu serta tolakanmu


Written by : Aryudananta A. Shasena
Twitter : @aryudananta                http://www. Facebook.com/aryudanantaa
http://www.aashasena.blogspot.com